Home
 
 
 

Home

Selamatkan Mangrove Kita Untuk Keseimbangan Pesisir


Menggagas Budaya Hijau (Green Culture) Untuk Penyelamatan Lingkungan

Oleh : Dr. Sodikin, S.Pd, M.Si 

Aktivis lingkungan dan Dosen Geografi pada Jurusan Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


     Hari Lingkungan hidup yang diperingati setiap tanggal 5 Juni pada hakekatnya adalah sebuah upaya untuk menggerakan kesadaran masyarakat akan pentinya menjaga kelestarian lingkungan hidup kita, yang kian hari terus mengalami penurunan. Hari Lingkungan hidup yang diperingati secara internasional di seluruh negara jika dilihat dari sejarahnya diawali pada tahun 1972 dimana beberapa negara di dunia mengalami masalah serius terkait lingkungan, saat itu kondisi lingkungan dari hari ke hari terus mengalami penurunan, hal ini terjadi karena pembangunan yang dilakukan pada tahun 1960 an banyak yang tidak memperhatikan lingkungan, penebangan dan pembakaran hutan dimana-mana, limbah industri yang tidak dikelola dengan baik dan lain sebagainya. Melihat kondisi lingkungan yang kian hari kian mengkhawatirkan maka mendorong PBB untuk melakukan konferensi tentang lingkungan yang diselenggarakan di Stockholm, Swedia pada tanggal 5 sampai 16 Juni 1972 yang diwakili oleh 110 negara, Swedia dipilih sebagai tuan rumah penyelenggara selaku negara pertama yang mengusulkan, sehingga konferensi tersebut juga kerap disebut Konferensi Stockholm. Dari konferensi tersebut disepakati beberapa hal terkait pengelolaan lingkungan hidup antara lain : (1) Deklarasi Stockholme, dimana dalam deklarasi tersebut berisi prinsip-prinsip yang harus digunakan dalam mengelola lingkungan hidup di masa depan melalui penerapan hukum lingkungan internasional. (2) Rencana Aksi, yang mencakup perencanaan dalam hal pemukiman, pengelolaan sumberdaya alam, pengendalian pencemaran lingkungan, pendidikan serta informasi mengenai lingkungan hidup. (3) Segi Kelembagaan, dibentuknya United Nations Environment Program (UNEP) yaitu badan PBB yang menangani program lingkungan dan berpusat di Nairobi, Kenya, Afrika. Setelah penyelenggaran konferensi Stockholm ini maka setiap tanggal 5 Juni diperingati sebagai hari lingkungan hidup sedunia.

    Persoalan kerusakan lingkungan di bumi saat ini marak terjadi disekitar kita, yang diakibatkan oleh makin pesatnya jumlah penduduk dan semakin menurunnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup, masalah-masalah kerusakan lingkungan hidup yang terjadi saat ini misalnya polusi udara yang diakibatkan oleh banyaknya kendaraan bermotor, pencemaran air oleh limbah domestik dan industri, global warming, banjir yang disebabkan oleh banykanya masyarakat yang membuang sampah di sungai, dan becana alam lainya yang mulai terjadi di mana-mana. Adanya kondisi seperti ini seharusnya masyarakat sadar bahwa semua kerusakan alam di Bumi ini pada dasarnya disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri yang tidak mempedulikan lingkungan dan akibat cara pandang masyarakat yang masih keliru terhadap lingkungan, dimana masyarakat memandang manusia dan lingkungan masih terpisah, sehingga manusia dalam melakukan aktivitasnya jarang yang mempedulikan akibat apa yang akan muncul dari lingkungan sekiarnya, misalnya saja banyak para nelayan yang dalam melakukan penangkapan ikan masih menggunakan bahan peledak, karena bagi mereka yang penting terpenuhi kebutuhan saat ini tanpa memikirkan efek akan terjadi di masa depan. 

   Melihat banyaknya persoalan kerusakan lingkungan yang marak terjadi saat ini, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mulai menjaga dan melestarikan bumi ini salah satunya adalah mencanangkan konsep budaya hijau (green culture) dalam kehidupan kita sehari-hari. Budaya hijau atau di sebut juga green culture adalah refleksi budaya masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, dan merupakan sebuah konsep yang memadukan isu sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dapat memberikan pengertian yang mudah terhadap pentingnya penghargaan terhadap nilai-nilai dan pengetahuan lokal untuk menyelamatkan masa depan lingkungan.

    Untuk mengimplementasikan budaya hijau ke masyarakat perlu ada beberapa hal yang harus dilakukan, yang pertama adanya sosialisasi yang tepat dan terarah kepada masyarakat baik dari pemerintah maupun LSM Lingkungan mengenai pentingnya melestarikan bumi dan lingkungan dalam menunjang kehidupan kita, baik untuk generasi sekarang maupun generasi yang akan datang, yang kedua perlu adanya upaya untuk menumbuhkan  kesadaran pribadi dari diri seseorang untuk berkomitmen melestarikan lingkungan bumi.   

    Upaya untuk mencintai dan melestarikan lingkungan Bumi ini tidak hanya dilakukan pada tanggal 5 Juni atau pada saat hari lingkungan hidup saja. Namun, setiap hari pun kita harus selalu peduli dengan lingkungan, mulai dari sekitar rumah, kantor, atau tempat bekerja dengan menerapkan budaya hijau dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya membiasakan untuk menghemat penggunaan listrik, menanami sekitar rumah dengan pepohonan, membiasakan menyimpan sampah di dalam tas atau saku saat kita tidak menemukan tempat sampah umum, kemudian membiasakan untuk mengolah sampah (barang tidak terpakai) yang ada disekitar kita untuk dijadikan barang yang mempunyai nilai guna lebih, misalnya membuat pernak-pernik dari barang bekas dan sebagainya, membiasakan untuk membawa air minum kemanapun kita pergi, karena hal ini dapat mengurangi sampah botol plastik dan mengupayakan untuk selalu menggunakan barang yang ramah lingkungan.

Hal ini terlihat sepele namun kita membiasakan kebiasaaan ini pastinya akan memberikan dampak yang besar bagi kelestarian bumi dan lingkungan kita, dan kerusakan-kerusakan terhadap dapat dikurangi, tentunya apabila ada komitmen  yang kuat dari masyarakat, pemerintah, dan LSM dalam menjalankan kesadaran untuk berbudaya hijau (culture green).

Radar Cirebon

AKTIVIS LINGKUNGAN INI RAIH GELAR DOKTOR USAI       TELITI DEFORESTASI MANGROVE INDRAMAYU


Sodikin, Ketua LSM Estuari Indramayu dan juga merupakan salah satu dosen Geografi pada Jurusan Pendidikan IPS Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta berhasil menyandang gelar doktor usai melakukan penelitian terkait deforestasi mangrove di Kabupaten Indramayu. Berita Selengkapnya KLIK DISINI


NILAI EKONOMIS TERSEMBUNYI DI BALIK HUTAN BAKAU

Oleh : Sodikin, S.Pd,M.Si

(Tulisan ini pernah diterbitkan pada Harian Rakyat Cirebon pada tanggal 18 Mei 2013) 

Kabupaten Cirebon merupakan wilayah pesisir yang merupakan daerah yang sangat kaya dengan keanekaragaman ekosistem laut dan pesisirnya, mulai dari penghasil ikan dan udang di Jawa Barat serta berbagai potensi laut lainya yang tidak kalah dengan daerah lain. Salah satu ekosistem potensial dari pesisirnya adalah vegetasi mangrove yang tersebar di pinggiran pantainya yang saat ini kondisinya terus berkurang. Menurut Nybakken seorang ahli mangrove dari Institut Pertanian Bogor hutan bakau atau mangal adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan semua varietas komunitas pantai tropis yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin.

Keberadaan hutan bakau (mangrove) di kawasan pesisir masih belum banyak diketahui manfaatnya oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya, sehingga masyarakat masih banyak yang mengabaikan kelestarianya dan bahkan tidak sedikit yang merusak vegetasi tersebut atau mengkonversinya menjadi peruntukan lain seperti untuk perluasan tambak, perkebunan dan lainya. alhasil berbagai masalah kerusakan di lingkungan pesisir marak terjadi, misalnya terjadinya abrasi pantai, intrusi air laut, dan sebagainya. Hutan pinggiran pantai yang sering masyarakat kenal sebagai hutan bakau (mangrove) merupakan salah satu ekosistem pantai yang sangat banyak menfaatnya untuk keseimbangan ekosistem pantai, mulai dari sebagai tempat beranak pinaknya biota laut (Nursery ground), misalnya tempat pemijahan ikan dan udang, sebagai penahan pantai dari gempuran ombak, sebagai penyerap pencemaran yang terjadi di pantai, mengurangi intrusi air laut, mengruangi hempasan ombak tsunami dan masih banyak fungsi lainya.

Tetapi fungsi yang belum begitu menyebar di kalangan masyarakat adalah fungsi mangrove sebagai bahan untuk pembuatan berbagai jenis makanan, yang dapat dijadikan salah satu pendapatan bagi masyarakat pantai, misalnya dari buah api-api (Avicennia) digunakan untuk membuat  donat, bubur sum-sum, wajit, dawet, lumpia, dan gemblong. sedangkan dari jenis buah pedada (Soneratia) dapat dibuat  Sirup pedada, wajit pedada, dodol pedada, dan permen pedada, sedangkan dari jenis Nipah (Nypah) dapat dimanfaatkan untuk membuat gula nipah, es buah nipah, dan kolak nipah. Menurut Achmad rasyid informasi sejarah pemanfaatan tumbuhan mangrove sebagai bahan makanan di Pulau Sulawesi tercatat sejak abad 16. Konon kabarnya pada zaman kerajaan Gowa Sulawesi Selatan (sekitar abab ke - 16) masyarakat dari kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukamba mengadakan pelayaran yang jauh dengan tugas kerajaan. Dalam perjalanannya, tiba-tiba terjadi angin kencang dilaut sehingga perahu layar mereka kehilangan arah dan terdampar pada suatu pulau. Ditempat yang baru ini persediaan beras sudah hampir habis dan sumber makanan berupa beras tidak ada, pada pulau tersebut hanya dijumpai hutan mangrove dan sedikit pohon kelapa muncullah pandangan dari awak rombongan perahu pencari tambahan atau campuran beras. Pendek cerita, suatu hari yang bahagia diketemukan campuran beras dengan aroma yang harum adalah buah Brugueira Sp (tancang) Selain itu mereka perlu mencari bahan lauk pauk yaitu campuran ikan segar dengan Rhizophora Sp (bakau) Kegiatan ini dipraktekan setelah pelayar ini pulang ke kampung halamannya. Demikianlah budaya ini berlanjut sampai berabad-abad dikecamatan kajang, Kabupaten Bulukumba. Saat ini pemanfaatan mangrove sebagai bahan makanan sudah banyak dilakukan seperti dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi, Ibu PKK dari Muara Angke Jakarta, dan beberapa wilayah di Jawa tengah dan sekitarnya.

Apabila masyarakat pesisir telah mengetahui dan dapat memanfaatkanya, maka diharapkan masyarakat akan terus melestarikan hutan mangrove yang ada disekitar tempat tinggalnya, karena selama ini masyarakat peisir mempunyai pandangan kalau adanya mangrove di pinggiran pantai maupun di sekitar tambak mereka umumnya menganggap tidak mempunyai manfaat malah justru punya anggapan kalau mangrove mempersempit lahan tambak mereka,  hal ini terjadi karena masyarakat awam memandang sesuatu yang bermanfaat itu kalau bisa memberikan manfaat langsung, sedangkan selama ini masyarakat mengenal pohon bakau (mangrove) manfaatnya tidak begitu terlihat, karena memang kerusakan hutan bakau akan memberikan dampaknya secara berangsur-angsur. tetapi dengan memperkenalkan kepada masyarakat akan manfaat yang lain dari hutan bakau (mangrove) sebagai bahan baku berbagai makanan setidaknya masyarakat akan merasakan manfaat langsung dari adanya pohon-pohon tersebut, sehingga mereka akan terus menanam mangrove baik di sekitar tambak mereka maupun di sekitar pantai, sehingga hutan mangrove akan tetap lestari dan keseimbangan lingkungan pesisir akan tetap terjaga.


Salam Lestari!!

 


 


 
 
 
Sodikin-mangroveruinjkt.com
Jasa website