Home
 
 
 

Home

Selamatkan Mangrove Kita Untuk Keseimbangan Pesisir


NILAI EKONOMIS TERSEMBUNYI DI BALIK HUTAN BAKAU

Oleh : Sodikin, S.Pd,M.Si

(Tulisan ini pernah diterbitkan pada Harian Rakyat Cirebon pada tanggal 18 Mei 2013) 

Kabupaten Cirebon merupakan wilayah pesisir yang merupakan daerah yang sangat kaya dengan keanekaragaman ekosistem laut dan pesisirnya, mulai dari penghasil ikan dan udang di Jawa Barat serta berbagai potensi laut lainya yang tidak kalah dengan daerah lain. Salah satu ekosistem potensial dari pesisirnya adalah vegetasi mangrove yang tersebar di pinggiran pantainya yang saat ini kondisinya terus berkurang. Menurut Nybakken seorang ahli mangrove dari Institut Pertanian Bogor hutan bakau atau mangal adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan semua varietas komunitas pantai tropis yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin.

Keberadaan hutan bakau (mangrove) di kawasan pesisir masih belum banyak diketahui manfaatnya oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya, sehingga masyarakat masih banyak yang mengabaikan kelestarianya dan bahkan tidak sedikit yang merusak vegetasi tersebut atau mengkonversinya menjadi peruntukan lain seperti untuk perluasan tambak, perkebunan dan lainya. alhasil berbagai masalah kerusakan di lingkungan pesisir marak terjadi, misalnya terjadinya abrasi pantai, intrusi air laut, dan sebagainya. Hutan pinggiran pantai yang sering masyarakat kenal sebagai hutan bakau (mangrove) merupakan salah satu ekosistem pantai yang sangat banyak menfaatnya untuk keseimbangan ekosistem pantai, mulai dari sebagai tempat beranak pinaknya biota laut (Nursery ground), misalnya tempat pemijahan ikan dan udang, sebagai penahan pantai dari gempuran ombak, sebagai penyerap pencemaran yang terjadi di pantai, mengurangi intrusi air laut, mengruangi hempasan ombak tsunami dan masih banyak fungsi lainya.

Tetapi fungsi yang belum begitu menyebar di kalangan masyarakat adalah fungsi mangrove sebagai bahan untuk pembuatan berbagai jenis makanan, yang dapat dijadikan salah satu pendapatan bagi masyarakat pantai, misalnya dari buah api-api (Avicennia) digunakan untuk membuat  donat, bubur sum-sum, wajit, dawet, lumpia, dan gemblong. sedangkan dari jenis buah pedada (Soneratia) dapat dibuat  Sirup pedada, wajit pedada, dodol pedada, dan permen pedada, sedangkan dari jenis Nipah (Nypah) dapat dimanfaatkan untuk membuat gula nipah, es buah nipah, dan kolak nipah. Menurut Achmad rasyid informasi sejarah pemanfaatan tumbuhan mangrove sebagai bahan makanan di Pulau Sulawesi tercatat sejak abad 16. Konon kabarnya pada zaman kerajaan Gowa Sulawesi Selatan (sekitar abab ke - 16) masyarakat dari kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukamba mengadakan pelayaran yang jauh dengan tugas kerajaan. Dalam perjalanannya, tiba-tiba terjadi angin kencang dilaut sehingga perahu layar mereka kehilangan arah dan terdampar pada suatu pulau. Ditempat yang baru ini persediaan beras sudah hampir habis dan sumber makanan berupa beras tidak ada, pada pulau tersebut hanya dijumpai hutan mangrove dan sedikit pohon kelapa muncullah pandangan dari awak rombongan perahu pencari tambahan atau campuran beras. Pendek cerita, suatu hari yang bahagia diketemukan campuran beras dengan aroma yang harum adalah buah Brugueira Sp (tancang) Selain itu mereka perlu mencari bahan lauk pauk yaitu campuran ikan segar dengan Rhizophora Sp (bakau) Kegiatan ini dipraktekan setelah pelayar ini pulang ke kampung halamannya. Demikianlah budaya ini berlanjut sampai berabad-abad dikecamatan kajang, Kabupaten Bulukumba. Saat ini pemanfaatan mangrove sebagai bahan makanan sudah banyak dilakukan seperti dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi, Ibu PKK dari Muara Angke Jakarta, dan beberapa wilayah di Jawa tengah dan sekitarnya.

Apabila masyarakat pesisir telah mengetahui dan dapat memanfaatkanya, maka diharapkan masyarakat akan terus melestarikan hutan mangrove yang ada disekitar tempat tinggalnya, karena selama ini masyarakat peisir mempunyai pandangan kalau adanya mangrove di pinggiran pantai maupun di sekitar tambak mereka umumnya menganggap tidak mempunyai manfaat malah justru punya anggapan kalau mangrove mempersempit lahan tambak mereka,  hal ini terjadi karena masyarakat awam memandang sesuatu yang bermanfaat itu kalau bisa memberikan manfaat langsung, sedangkan selama ini masyarakat mengenal pohon bakau (mangrove) manfaatnya tidak begitu terlihat, karena memang kerusakan hutan bakau akan memberikan dampaknya secara berangsur-angsur. tetapi dengan memperkenalkan kepada masyarakat akan manfaat yang lain dari hutan bakau (mangrove) sebagai bahan baku berbagai makanan setidaknya masyarakat akan merasakan manfaat langsung dari adanya pohon-pohon tersebut, sehingga mereka akan terus menanam mangrove baik di sekitar tambak mereka maupun di sekitar pantai, sehingga hutan mangrove akan tetap lestari dan keseimbangan lingkungan pesisir akan tetap terjaga.


Salam Lestari!!

 


 


 
 
 
Sodikin-mangroveruinjkt.com
Jasa website